{"id":82,"date":"2026-08-28T09:00:00","date_gmt":"2026-08-28T02:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/?p=82"},"modified":"2026-08-15T10:59:42","modified_gmt":"2026-08-15T03:59:42","slug":"surplus-underwriting-dana-tabarru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/","title":{"rendered":"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi?"},"content":{"rendered":"<p>Ini pertanyaan yang hampir selalu muncul, dan wajar sekali ditanyakan:<\/p>\n<p>&#8220;Kalau saya bayar kontribusi bertahun-tahun tapi tidak pernah klaim, uang saya ke mana?&#8221;<\/p>\n<p>Di asuransi konvensional, jawabannya cukup sederhana: uang itu menjadi milik perusahaan, karena hubungannya adalah jual beli. Kamu membeli janji perlindungan, dan perusahaan menjualnya.<\/p>\n<p>Di asuransi syariah, jawabannya berbeda. Dan perbedaan ini yang membuat strukturnya menarik untuk dipahami.<\/p>\n<h2>Kontribusimu tidak masuk satu kantong<\/h2>\n<p>Waktu kamu membayar kontribusi di asuransi syariah, dananya dipecah ke beberapa pos dengan akad yang berbeda:<\/p>\n<p><strong>Dana tabarru&#8217;.<\/strong> Ini iuran kebajikan yang dikumpulkan bersama seluruh peserta. Sifatnya hibah, artinya kamu merelakannya untuk menolong peserta lain yang tertimpa musibah. Dari dana inilah santunan dibayarkan.<\/p>\n<p><strong>Ujrah (fee pengelolaan).<\/strong> Ini yang menjadi hak perusahaan sebagai pengelola, berdasarkan akad wakalah bil ujrah. Dipakai untuk biaya administrasi, operasional, dan pemasaran. Besarannya disepakati di muka, bukan diambil diam-diam.<\/p>\n<p><strong>Dana investasi<\/strong> (kalau produkmu punya komponen ini). Dikelola secara syariah, dan hasilnya dibagi antara peserta dan pengelola sesuai nisbah yang disepakati.<\/p>\n<p>Yang penting dipahami: <strong>dana tabarru&#8217; bukan milik perusahaan.<\/strong> Perusahaan hanya mengelolanya atas nama peserta.<\/p>\n<blockquote><p>Perusahaan asuransi syariah berperan sebagai pengelola dana bersama, bukan sebagai pembeli risikomu.<\/p><\/blockquote>\n<h2>Apa yang terjadi kalau klaim lebih sedikit dari iuran<\/h2>\n<p>Di sinilah konsep <strong>surplus underwriting<\/strong> masuk.<\/p>\n<p>Bayangkan dalam satu tahun, total dana tabarru&#8217; yang terkumpul dari seluruh peserta adalah Rp 100 miliar. Total santunan yang dibayarkan untuk peserta yang meninggal, sakit kritis, atau kecelakaan adalah Rp 70 miliar.<\/p>\n<p>Selisih Rp 30 miliar itulah yang disebut surplus underwriting.<\/p>\n<p>Karena dana tabarru&#8217; adalah milik bersama peserta, surplus ini tidak otomatis menjadi keuntungan perusahaan. Berdasarkan Fatwa DSN-MUI, ada beberapa opsi pengelolaan yang harus disepakati sejak awal dalam polis:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Disimpan seluruhnya sebagai cadangan<\/strong> dana tabarru&#8217; untuk mengantisipasi klaim di periode berikutnya<\/li>\n<li><strong>Sebagian disimpan sebagai cadangan, sebagian dibagikan kepada peserta<\/strong> yang memenuhi syarat<\/li>\n<li><strong>Sebagian disimpan sebagai cadangan, sebagian dibagikan kepada peserta, dan sebagian menjadi bagian pengelola<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Mekanisme mana yang berlaku untuk polismu tertulis di dalam kontrak. Ini salah satu hal yang layak kamu tanyakan sebelum menandatangani.<\/p>\n<h2>Kalau klaim justru lebih besar dari iuran<\/h2>\n<p>Pertanyaan lanjutan yang bagus: bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya?<\/p>\n<p>Kalau dana tabarru&#8217; tidak cukup menutup seluruh klaim, terjadi defisit underwriting. Dalam praktiknya, perusahaan pengelola memberikan pinjaman tanpa bunga (<em>qardh<\/em>) untuk menutup kekurangan itu.<\/p>\n<p>Pinjaman tersebut nantinya dikembalikan dari surplus dana tabarru&#8217; di periode-periode berikutnya.<\/p>\n<p>Struktur ini yang membuat sistemnya berkelanjutan sekaligus tetap konsisten dengan prinsip syariah, karena tidak ada unsur bunga di dalamnya.<\/p>\n<h2>Jadi apakah rugi kalau tidak pernah klaim?<\/h2>\n<p>Sekarang mari jawab pertanyaan awalnya dengan jujur.<\/p>\n<p>Secara nominal, kalau kamu tidak pernah klaim, kamu memang tidak menerima santunan. Sebagian kontribusimu terpakai untuk menolong peserta lain, sebagian menjadi ujrah pengelola, dan sebagian mungkin kembali padamu sebagai surplus.<\/p>\n<p>Tapi ada dua cara memandang ini.<\/p>\n<p><strong>Pertama, dari sudut pandang risiko.<\/strong> Tidak pernah klaim artinya kamu sehat, keluargamu utuh, dan tidak ada musibah besar yang menimpa. Itu hasil terbaik yang bisa kamu dapat.<\/p>\n<p>Analoginya seperti sabuk pengaman. Kalau sepanjang hidup kamu tidak pernah kecelakaan, apakah sabuk pengamanmu jadi sia-sia? Tidak. Justru itu yang kamu harapkan.<\/p>\n<p><strong>Kedua, dari sudut pandang syariah.<\/strong> Dana tabarru&#8217;-mu yang terpakai bukan hilang. Dana itu dipakai untuk membantu keluarga lain yang sedang berada di titik terendah hidupnya. Ada anak yang tetap bisa sekolah karena santunan itu, ada keluarga yang tidak perlu menjual rumah.<\/p>\n<p>Dalam kerangka ta&#8217;awun (tolong-menolong), kontribusimu sudah bekerja bahkan tanpa kamu klaim.<\/p>\n<h2>Yang membedakan dari sekadar menabung<\/h2>\n<p>Kadang muncul argumen: &#8220;kalau begitu lebih baik menabung sendiri saja.&#8221;<\/p>\n<p>Ini pertanyaan yang layak dijawab dengan angka, bukan retorika.<\/p>\n<p>Misalnya kamu menyisihkan Rp 500 ribu per bulan. Setelah tiga tahun, terkumpul sekitar Rp 18 juta. Kalau di tahun ketiga terjadi musibah yang membutuhkan Rp 500 juta, tabunganmu menutup 3,6 persen dari kebutuhan.<\/p>\n<p>Dengan mekanisme berbagi risiko, santunan yang tersedia sudah penuh sejak polis aktif, bukan bertumbuh perlahan mengikuti berapa lama kamu berkontribusi.<\/p>\n<p>Ini bukan berarti menabung tidak perlu. Keduanya punya fungsi berbeda: menabung membangun kekayaan, proteksi menjaga kekayaan dan penghasilan dari risiko yang tidak bisa diprediksi. Keduanya berjalan bersamaan.<\/p>\n<h2>Yang layak kamu tanyakan<\/h2>\n<p>Kalau kamu ingin memastikan struktur syariah pada polis yang ditawarkan kepadamu benar-benar berjalan, ini pertanyaan konkretnya:<\/p>\n<ol>\n<li>Berapa persen kontribusi saya yang masuk ke dana tabarru&#8217;, dan berapa yang menjadi ujrah?<\/li>\n<li>Bagaimana mekanisme pembagian surplus underwriting yang berlaku di polis ini?<\/li>\n<li>Apa syarat peserta untuk berhak menerima bagian surplus?<\/li>\n<li>Apakah laporan pengelolaan dana tabarru&#8217; bisa diakses peserta?<\/li>\n<li>Siapa anggota Dewan Pengawas Syariah perusahaan ini?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Konsultan yang paham akan menjawab kelimanya tanpa berputar. Kalau jawabannya kabur atau dialihkan ke pembahasan manfaat produk, itu sinyal untuk bertanya lebih jauh.<\/p>\n<h2>Satu catatan penutup<\/h2>\n<p>Memahami ke mana perginya kontribusimu bukan sekadar soal ketenangan hati. Ini soal membuat keputusan dengan mata terbuka.<\/p>\n<p>Banyak orang mengambil proteksi karena didorong rasa takut atau karena sungkan menolak, lalu menyesal beberapa bulan kemudian karena tidak benar-benar paham apa yang mereka beli.<\/p>\n<p>Kalau kamu paham strukturnya sejak awal, keputusanmu jadi keputusanmu sendiri. Dan itu jauh lebih kokoh daripada keputusan yang diambil karena dorongan sesaat.<\/p>\n<blockquote><p>Sebelum bicara produk, ada baiknya kamu tahu dulu posisi keuanganmu sendiri. Ada checklist dan beberapa kalkulator gratis di <a href=\"\/cek-keuangan\">proteksimu.id\/cek-keuangan<\/a>, tanpa perlu isi data pribadi apapun.<\/p><\/blockquote>\n<p>Dan kalau ada pertanyaan soal akad, surplus, atau hal lain yang ingin kamu pastikan sebelum memutuskan, <a href=\"\/ngobrol-yuk\">silakan ngobrol dengan saya<\/a>. Saya lebih senang kamu bertanya banyak di awal daripada ragu setelah menandatangani.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ini pertanyaan yang hampir selalu muncul, dan wajar sekali ditanyakan: &#8220;Kalau saya bayar kontribusi bertahun-tahun tapi tidak pernah klaim, uang saya ke mana?&#8221; Di asuransi konvensional, jawabannya cukup sederhana: uang itu menjadi milik perusahaan, karena hubungannya adalah jual beli. Kamu membeli janji perlindungan, dan perusahaan menjualnya. Di asuransi syariah, jawabannya berbeda. Dan perbedaan ini yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-82","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-syariah"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi? - Edukasi Proteksimu<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Memahami dana tabarru&#039;, surplus underwriting, dan mekanisme qardh dalam asuransi syariah. Plus lima pertanyaan yang layak kamu ajukan sebelum menandatangani polis.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi? - Edukasi Proteksimu\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Memahami dana tabarru&#039;, surplus underwriting, dan mekanisme qardh dalam asuransi syariah. Plus lima pertanyaan yang layak kamu ajukan sebelum menandatangani polis.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Edukasi Proteksimu\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-28T02:00:00+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"proteksimu.\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"proteksimu.\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"proteksimu.\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/3937db553bdfbf957f9527114b33a3de\"},\"headline\":\"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi?\",\"datePublished\":\"2026-08-28T02:00:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/\"},\"wordCount\":869,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Syariah\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/\",\"name\":\"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi? - Edukasi Proteksimu\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-08-28T02:00:00+00:00\",\"description\":\"Memahami dana tabarru', surplus underwriting, dan mekanisme qardh dalam asuransi syariah. Plus lima pertanyaan yang layak kamu ajukan sebelum menandatangani polis.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/surplus-underwriting-dana-tabarru\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Edukasi Proteksimu\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Edukasi Proteksimu\",\"url\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/logo1-1024x683.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/logo1-1024x683.png\",\"width\":1024,\"height\":683,\"caption\":\"Edukasi Proteksimu\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/3937db553bdfbf957f9527114b33a3de\",\"name\":\"proteksimu.\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/eb8b66eeca42f90521ecad1881d873572b7c5192807119ba758e782644053ea2?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/eb8b66eeca42f90521ecad1881d873572b7c5192807119ba758e782644053ea2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/eb8b66eeca42f90521ecad1881d873572b7c5192807119ba758e782644053ea2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"proteksimu.\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/proteksimu.id\\\/blog\\\/author\\\/proteksimu\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi? - Edukasi Proteksimu","description":"Memahami dana tabarru', surplus underwriting, dan mekanisme qardh dalam asuransi syariah. Plus lima pertanyaan yang layak kamu ajukan sebelum menandatangani polis.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi? - Edukasi Proteksimu","og_description":"Memahami dana tabarru', surplus underwriting, dan mekanisme qardh dalam asuransi syariah. Plus lima pertanyaan yang layak kamu ajukan sebelum menandatangani polis.","og_url":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/","og_site_name":"Edukasi Proteksimu","article_published_time":"2026-08-28T02:00:00+00:00","author":"proteksimu.","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"proteksimu.","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/"},"author":{"name":"proteksimu.","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#\/schema\/person\/3937db553bdfbf957f9527114b33a3de"},"headline":"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi?","datePublished":"2026-08-28T02:00:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/"},"wordCount":869,"publisher":{"@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Syariah"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/","url":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/","name":"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi? - Edukasi Proteksimu","isPartOf":{"@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2026-08-28T02:00:00+00:00","description":"Memahami dana tabarru', surplus underwriting, dan mekanisme qardh dalam asuransi syariah. Plus lima pertanyaan yang layak kamu ajukan sebelum menandatangani polis.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/surplus-underwriting-dana-tabarru\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kalau Tidak Pernah Klaim, Ke Mana Uang Kontribusiku Pergi?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/","name":"Edukasi Proteksimu","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#organization","name":"Edukasi Proteksimu","url":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/logo1-1024x683.png","contentUrl":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/logo1-1024x683.png","width":1024,"height":683,"caption":"Edukasi Proteksimu"},"image":{"@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/#\/schema\/person\/3937db553bdfbf957f9527114b33a3de","name":"proteksimu.","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/eb8b66eeca42f90521ecad1881d873572b7c5192807119ba758e782644053ea2?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/eb8b66eeca42f90521ecad1881d873572b7c5192807119ba758e782644053ea2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/eb8b66eeca42f90521ecad1881d873572b7c5192807119ba758e782644053ea2?s=96&d=mm&r=g","caption":"proteksimu."},"sameAs":["https:\/\/proteksimu.id\/blog"],"url":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/author\/proteksimu\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85,"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82\/revisions\/85"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/proteksimu.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}