Salah satu alasan paling umum kenapa orang menunda proteksi adalah karena merasa mahal. Tapi kalau ditanya lebih jauh, “mahal dibanding apa?”, biasanya tidak ada jawaban yang pasti.
Ini masalah yang bisa diselesaikan. Ada cara menghitung kebutuhan proteksi yang logis dan bisa kamu lakukan sendiri dalam sepuluh menit.
Setelah tahu angkanya, kamu bisa menilai apakah biayanya masuk akal atau tidak. Yang penting keputusannya dibuat berdasarkan angka, bukan perasaan.
Metode dasar: Income Replacement
WHO merekomendasikan pendekatan yang disebut income replacement, yaitu menghitung berapa lama keluarga perlu bertahan kalau pencari nafkah tidak bisa bekerja.
Kebutuhan Proteksi = Pengeluaran Bulanan x 12 bulan x 5 tahun
Kenapa lima tahun? Karena itu estimasi waktu yang dibutuhkan keluarga untuk beradaptasi secara finansial:
- Tahun 1 sampai 2: fokus pengobatan intensif, tidak ada kapasitas untuk hal lain
- Tahun 3 sampai 4: masa pemulihan dan rehabilitasi
- Tahun 5: mulai kembali bekerja secara bertahap, atau pasangan sudah membangun sumber penghasilan baru
Apa saja yang dihitung sebagai pengeluaran
Yang dihitung adalah pengeluaran riil, bukan penghasilan. Ini komponennya:
- Kebutuhan pokok: makan, listrik, air, gas, internet
- Cicilan: KPR, kendaraan, kartu kredit
- Pendidikan anak: SPP, les, buku, seragam
- Transportasi: bensin, transportasi umum
- Kesehatan rutin: vitamin, cek kesehatan berkala
- Dana sosial: zakat, infaq, sumbangan
Contoh perhitungan
Untuk keluarga dengan total pengeluaran Rp 15 juta per bulan:
Rp 15.000.000 x 12 bulan x 5 tahun = Rp 900 juta
Itu angka dasarnya. Belum termasuk pelunasan sisa KPR, dana pendidikan anak ke depan, dan dana darurat.
Menghitung uang pertanggungan jiwa
Untuk asuransi jiwa, ada tiga metode yang umum dipakai. Masing-masing memberi angka berbeda, dan itu wajar karena sudut pandangnya memang berbeda.
Mari kita pakai satu contoh yang sama untuk ketiganya: Pak Budi, 35 tahun, penghasilan Rp 180 juta per tahun.
Metode 1: Human Life Value
Pendekatan ini menghitung total penghasilan yang masih akan dihasilkan seseorang sampai pensiun.
Rumus: penghasilan per tahun x sisa tahun produktif
Pak Budi berusia 35 tahun dan berencana pensiun di usia 60, jadi sisa masa produktifnya 25 tahun.
Rp 180 juta x 25 tahun = Rp 4,5 miliar
Metode ini memberi angka paling besar karena menghitung seluruh potensi penghasilan yang hilang.
Metode 2: DIME (Debt, Income, Mortgage, Education)
Pendekatan ini menjumlahkan kewajiban konkret yang perlu ditutup.
Rumus: Utang + (Gaji tahunan x 10) + Sisa KPR + Biaya pendidikan anak
Untuk Pak Budi:
- Utang: Rp 200 juta
- Income 10 tahun: Rp 180 juta x 10 = Rp 1,8 miliar
- Sisa KPR: Rp 1 miliar
- Pendidikan anak: Rp 500 juta
Total = Rp 3,5 miliar
Metode 3: Family Needs Approach
Pendekatan ini menghitung kebutuhan keluarga, lalu dikurangi aset yang sudah ada.
Rumus: (Biaya hidup + Pendidikan + Utang + Dana darurat) – Aset tersedia
Untuk Pak Budi:
- Biaya hidup 10 tahun: Rp 1,8 miliar
- Pendidikan anak sampai lulus: Rp 500 juta
- Utang: Rp 300 juta
- Dana darurat dan biaya pemakaman: Rp 200 juta
- Total kebutuhan: Rp 2,8 miliar
- Dikurangi tabungan dan investasi saat ini: Rp 300 juta
Total = Rp 2,5 miliar
Mana yang benar?
Ketiganya benar, karena masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda.
Dalam praktiknya, konsultan biasanya menggunakan kombinasi ketiganya untuk mendapatkan rentang. Untuk Pak Budi, rentangnya antara Rp 2,5 miliar sampai Rp 4,5 miliar.
Angka final kemudian disesuaikan dengan kemampuan dan prioritas keluarga.
Mulai dari uang pertanggungan minimal yang tidak memberatkan, lalu tambah bertahap seiring penghasilan naik.
Pendekatan alternatif: berapa supaya keluarga tetap “digaji”
Ada satu cara berpikir lain yang menurut saya lebih mudah dipahami, terutama untuk yang berpikir dalam kerangka arus kas.
Alih-alih menghitung “berapa total yang dibutuhkan”, pertanyaannya diubah jadi: berapa uang pertanggungan yang dibutuhkan supaya keluarga menerima penghasilan bulanan tanpa harus menghabiskan pokoknya?
Logikanya begini. Uang pertanggungan yang cair tidak harus langsung dibelanjakan. Kalau ditempatkan di instrumen yang memberikan imbal hasil rutin, seperti obligasi pemerintah (SBN, ORI, Sukuk Ritel), keluarga bisa menerima kupon setiap bulan tanpa menyentuh pokoknya.
Cara menghitungnya
Misalnya kebutuhan bulanan keluarga Rp 15 juta, berarti Rp 180 juta per tahun.
Kalau kupon obligasi pemerintah sekitar 6 persen per tahun, ada satu hal yang harus diperhitungkan: kupon obligasi dipotong pajak 20 persen.
Jadi kupon efektif yang diterima adalah 6% x 80% = 4,8 persen.
Perhitungannya:
Rp 180 juta / 4,8% = Rp 3,75 miliar
Dengan uang pertanggungan Rp 3,75 miliar yang ditempatkan di obligasi pemerintah, keluarga menerima sekitar Rp 15 juta per bulan dari kupon, tanpa menyentuh pokoknya.
Artinya penghasilan itu bisa berjalan bertahun-tahun, dan pokoknya tetap utuh sebagai warisan.
Banyak orang lupa memperhitungkan pajak 20 persen ini, sehingga angka yang dihitung terlalu rendah dan keluarga akhirnya harus mengambil dari pokok.
Yang perlu kamu ingat soal angka besar
Kalau setelah menghitung ternyata angkanya miliaran dan terasa mustahil, ada beberapa hal yang perlu diletakkan pada tempatnya.
Pertama, angka besar itu bukan menunjukkan mahalnya proteksi, tapi menunjukkan seberapa besar nilai ekonomi yang kamu bawa untuk keluargamu setiap bulan. Itu justru angka yang layak kamu banggakan.
Kedua, kamu tidak harus menutup seluruh angka itu sekarang. Proteksi dibangun bertahap. Mulai dari yang paling kritis dan yang mampu kamu bayar.
Ketiga, kebutuhan proteksi menurun seiring waktu. Saat KPR lunas dan anak-anak sudah mandiri, kebutuhannya jauh lebih kecil. Puncak kebutuhan biasanya di usia 30-an sampai 40-an awal, saat tanggungan paling berat.
Cara paling cepat menghitungnya
Semua rumus di atas bisa kamu hitung manual dengan kalkulator. Tapi supaya lebih praktis, saya sudah buatkan kalkulatornya.
Di proteksimu.id/cek-keuangan ada empat alat bantu gratis: checklist proteksi 13 poin, kalkulator income replacement, simulasi alokasi budget, dan kalkulator uang pertanggungan asuransi jiwa yang sudah memperhitungkan pajak kupon 20 persen. Semua tanpa perlu isi data pribadi.
Setelah tahu angkanya, kalau kamu ingin membahas mana yang paling mendesak untuk kondisimu dan bagaimana menyusunnya secara bertahap, mari kita ngobrol 30 menit. Saya akan bantu hitung dengan angka riil keluargamu, lalu kamu yang putuskan.