Ibu Rumah Tangga Tidak Punya Gaji, Tapi Punya Nilai Ekonomi. Berapa?

Ada satu anggota keluarga yang hampir selalu terlewat dalam perencanaan proteksi: ibu rumah tangga.

Logikanya terdengar masuk akal. Proteksi penghasilan diberikan kepada yang punya penghasilan. Kalau tidak ada gaji yang hilang, tidak ada yang perlu diganti.

Tapi coba ikuti satu latihan sederhana ini, dan kesimpulannya mungkin berubah.

Latihan: hitung biaya penggantinya

Bayangkan seorang ibu rumah tangga tiba-tiba tidak bisa menjalankan perannya selama enam bulan, entah karena sakit berat atau kecelakaan.

Sekarang hitung berapa biaya untuk menggantikan pekerjaan yang selama ini dia lakukan:

PeranPenggantiEstimasi biaya per bulan
Pengasuhan anakPengasuh atau daycareRp 2 juta sampai 4 juta
MemasakKatering atau makan di luarRp 1,5 juta sampai 3 juta
Kebersihan rumah & cucianAsisten rumah tanggaRp 1,5 juta sampai 2,5 juta
Antar jemput sekolahJasa antar jemputRp 500 ribu sampai 1 juta
Mendampingi belajarGuru les privatRp 500 ribu sampai 1,5 juta
Mengelola keuangan & belanja rumahWaktu & efisiensi yang hilangSulit dinilai, tapi nyata

Estimasi kasar untuk kota besar. Angka bervariasi tergantung lokasi dan jumlah anak.

Totalnya berkisar Rp 6 juta sampai 12 juta per bulan. Untuk enam bulan, itu sekitar Rp 36 juta sampai 72 juta.

Dan angka itu belum menghitung biaya pengobatannya sendiri.

Ibu rumah tangga tidak menerima gaji, tapi pekerjaannya punya nilai ekonomi yang nyata. Nilai itu baru terlihat justru ketika dia tidak ada.

Dampak berlapis yang sering tidak diantisipasi

Selain biaya pengganti, ada beberapa dampak lain yang muncul bersamaan.

Pasangan sering harus mengurangi jam kerja. Untuk mendampingi pengobatan, mengurus anak, atau sekadar menangani hal-hal yang biasanya ditangani pasangannya. Artinya penghasilan keluarga ikut turun, tepat di saat pengeluaran naik.

Ritme keluarga berubah total. Anak-anak yang biasanya didampingi belajar jadi tidak terpantau. Pola makan berubah karena tidak ada yang memasak. Hal-hal kecil yang selama ini berjalan otomatis tiba-tiba butuh pengelolaan.

Tidak ada jaring pengaman institusional. Karyawan yang sakit punya cuti sakit, asuransi kantor, dan BPJS Ketenagakerjaan. Ibu rumah tangga tidak punya satupun dari itu, kecuali yang disiapkan keluarga sendiri.

Apa yang biasanya sudah ada

Biasanya ibu rumah tangga sudah terdaftar di BPJS Kesehatan sebagai anggota keluarga. Ini penting dan sudah menutup lapisan dasar biaya pengobatan.

Tapi seperti yang berlaku untuk siapapun, BPJS menanggung biaya medis. BPJS tidak menanggung biaya pengganti peran, dan tidak menanggung turunnya penghasilan pasangan yang harus mendampingi.

Sebagian keluarga juga mendaftarkan pasangan pada asuransi kesehatan kantor, kalau fasilitasnya mencakup anggota keluarga. Ini membantu, tapi biasanya limitnya lebih kecil dan tetap berhenti kalau pemegang polis resign atau di-PHK.

Proteksi apa yang biasanya relevan

Untuk ibu rumah tangga, prioritasnya sedikit berbeda dari pencari nafkah.

Proteksi kesehatan tetap yang pertama, untuk menutup keterbatasan BPJS soal pilihan rumah sakit, waktu tunggu, dan kelas perawatan.

Proteksi penyakit kritis menjadi relevan justru karena santunannya dibayarkan tunai ke rekening pribadi. Dana ini yang bisa dipakai untuk membayar pengasuh, katering, atau asisten rumah tangga selama masa pemulihan, sehingga ritme keluarga tetap terjaga dan pasangan tidak harus berhenti bekerja.

Proteksi jiwa masih layak dipertimbangkan meski tidak ada penghasilan yang hilang, karena ada biaya penggantian peran yang berlangsung bertahun-tahun, terutama kalau anak-anak masih kecil.

Besarannya tidak perlu sebesar proteksi pencari nafkah utama. Yang penting cukup untuk menutup biaya transisi dan penggantian peran selama beberapa tahun.

Kalau budgetnya terbatas

Realistis saja. Untuk banyak keluarga muda, menambah satu lagi pos proteksi terasa berat.

Kalau harus memilih, urutannya biasanya begini:

  1. BPJS aktif untuk seluruh anggota keluarga. Ini tidak bisa dinegosiasi.
  2. Proteksi pencari nafkah utama. Kesehatan, penghasilan, dan jiwa. Kalau sumber nafkah runtuh, seluruh sistem keluarga ikut runtuh.
  3. Proteksi kesehatan untuk pasangan dan anak.
  4. Proteksi penyakit kritis untuk pasangan dengan uang pertanggungan yang tidak memberatkan.

Kalau saat ini kamu baru sampai poin dua, itu bukan kegagalan. Itu urutan yang benar. Yang penting kamu tahu poin tiga dan empat ada, supaya bisa dikerjakan saat kemampuan bertambah.

Percakapan yang layak dilakukan berdua

Kalau kamu ingin membahas ini dengan pasangan, beberapa pertanyaan ini bisa jadi pembuka:

  • Kalau salah satu dari kita tidak bisa menjalankan peran selama enam bulan, apa yang berubah di rumah ini?
  • Siapa yang akan menangani hal-hal yang selama ini ditangani orang itu?
  • Berapa kira-kira biayanya kalau kita harus membayar orang untuk itu?
  • Apakah tabungan kita cukup menutup itu ditambah biaya pengobatan?

Percakapan ini seringkali membuka hal-hal yang selama ini tidak pernah dihitung. Bukan cuma soal angka, tapi juga soal pengakuan atas kontribusi yang selama ini dianggap wajar dan tak terlihat.

Satu catatan

Menghitung nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga bukan berarti mereduksi peran seorang ibu menjadi sekadar angka.

Kasih sayang, kehadiran, dan pengasuhan tidak bisa digantikan siapapun, dan tidak ada perhitungan yang bisa mewakilinya.

Yang bisa dihitung adalah komponen praktisnya, dan itu perlu dihitung justru supaya keluarga punya persiapan yang layak. Merencanakan proteksi untuk pasangan yang tidak berpenghasilan bukan tanda meremehkan perannya, tapi tanda mengakui bahwa perannya memang punya nilai yang nyata.

Kalau kamu ingin melihat gambaran proteksi keluargamu secara menyeluruh, ada checklist 13 poin gratis di proteksimu.id/cek-keuangan. Bisa diisi berdua dengan pasangan dalam dua menit.

Dan kalau kamu ingin dibantu menyusun urutan yang realistis dengan kondisi keluargamu sekarang, mari kita ngobrol 30 menit. Tidak ada presentasi produk di pertemuan pertama, cuma memetakan posisi kalian saat ini.