Ada pergeseran yang sedang terjadi di Indonesia, dan datanya cukup konsisten: penyakit kritis semakin banyak menyerang kelompok usia yang lebih muda.
Dulu kanker, stroke, dan serangan jantung dianggap penyakit orang tua. Sekarang tidak lagi sepenuhnya begitu.
Sekitar 25 sampai 30 persen kasus penyakit kritis di Indonesia terjadi pada usia di bawah 40 tahun.
Angka itu cukup untuk membuat kalimat “masih muda ini” berhenti menjadi alasan yang meyakinkan.
Kenapa pergeserannya terjadi
Tidak ada penyebab tunggal. Yang terjadi adalah kombinasi beberapa faktor yang saling memperkuat.
Pola makan
Konsumsi makanan ultra proses, tinggi gula, tinggi garam, dan tinggi lemak jenuh meningkat seiring perubahan gaya hidup urban. Sementara asupan serat dari sayur dan buah cenderung menurun.
Kemudahan akses makanan cepat saji lewat aplikasi pesan antar mengubah pola makan harian tanpa banyak orang menyadarinya.
Kurang bergerak
Pekerjaan yang semakin banyak dilakukan sambil duduk, ditambah waktu layar yang panjang, membuat aktivitas fisik harian turun drastis dibanding generasi sebelumnya.
Stres berkepanjangan
Tekanan pekerjaan, beban finansial, dan tuntutan sosial yang berlangsung terus-menerus punya dampak fisiologis yang nyata, termasuk pada tekanan darah dan sistem kekebalan tubuh.
Kualitas tidur yang menurun
Tidur kurang dari enam jam secara kronis dikaitkan dengan berbagai gangguan metabolik dan kardiovaskular.
Polusi udara
Terutama di kota besar, paparan partikel halus dalam jangka panjang menjadi faktor risiko untuk gangguan pernapasan dan kardiovaskular.
Kesadaran deteksi dini yang rendah
Ini yang paling bisa diubah. Banyak orang baru memeriksakan diri setelah gejalanya mengganggu, padahal beberapa kondisi berkembang diam-diam bertahun-tahun sebelum menimbulkan keluhan.
Sebagian besar faktor risiko di atas bisa dikelola. Yang tidak bisa dikelola adalah keputusan untuk menundanya.
Biayanya, dan kenapa terus naik
Rata-rata biaya penanganan penyakit kritis di Indonesia berkisar Rp 500 juta. Ini mencakup diagnosis, tindakan, terapi, dan perawatan lanjutan.
Yang membuat angkanya bergerak adalah tren biaya kesehatan yang naik sekitar 13 persen per tahun di Indonesia, lebih tinggi dari rata-rata global sekitar 11,6 persen dan Asia sekitar 11,4 persen.
Artinya, biaya yang hari ini Rp 100 juta bisa menjadi hampir Rp 185 juta dalam lima tahun.
Ini bukan soal rumah sakit menaikkan harga sesuka hati. Penyebabnya kombinasi teknologi medis yang makin canggih, harga obat, dan permintaan yang meningkat.
Yang lebih mahal dari biaya pengobatan
Ini bagian yang paling sering luput dari perhitungan orang.
Penanganan penyakit kritis umumnya membutuhkan waktu enam sampai dua belas bulan, mencakup pengobatan intensif dan pemulihan. Selama periode itu, kemampuan bekerja umumnya sangat terbatas atau berhenti sama sekali.
Kalau penghasilan bulananmu Rp 12 juta dan kamu tidak bisa bekerja selama sepuluh bulan, itu Rp 120 juta yang hilang. Sementara cicilan rumah, SPP anak, tagihan listrik, dan belanja dapur tetap berjalan.
Jadi total dampak finansialnya bukan Rp 500 juta, tapi Rp 500 juta ditambah penghasilan yang hilang, ditambah biaya-biaya pendukung yang tidak masuk tagihan rumah sakit.
Asuransi kesehatan menanggung bagian pertama. Bagian kedua dan ketiga membutuhkan jenis proteksi yang berbeda.
Kabar baiknya: banyak yang bisa dicegah dan dideteksi
Bagian ini penting, karena artikel soal penyakit kritis mudah sekali berubah menjadi menakut-nakuti. Itu bukan tujuannya.
Beberapa hal yang bisa kamu lakukan mulai bulan ini:
Pemeriksaan kesehatan berkala. Untuk usia 30-an, umumnya mencakup tekanan darah, gula darah, profil lipid (kolesterol), dan fungsi ginjal serta hati. Konsultasikan dengan dokter jenis dan frekuensi yang sesuai untuk kondisimu, terutama kalau ada riwayat penyakit dalam keluarga.
Kenali riwayat keluarga. Kalau ada anggota keluarga inti dengan riwayat kanker, jantung, diabetes, atau stroke, sampaikan ini ke doktermu. Riwayat keluarga memengaruhi jenis dan waktu skrining yang disarankan.
Aktivitas fisik rutin. Tidak harus olahraga berat. Jalan kaki 30 menit sebagian besar hari dalam seminggu sudah memberi manfaat yang terukur.
Perbaiki pola makan secara bertahap. Tidak perlu perubahan drastis yang tidak bertahan. Mengurangi minuman manis dan menambah porsi sayur adalah dua perubahan sederhana dengan dampak nyata.
Perhatikan tidur. Tujuh sampai delapan jam per malam secara konsisten.
Berhenti merokok. Ini faktor risiko tunggal dengan dampak terbesar yang sepenuhnya bisa dikendalikan.
Jangan tunda memeriksakan keluhan. Perubahan yang tidak biasa dan menetap lebih dari beberapa minggu layak diperiksakan, sekecil apapun terlihatnya. Deteksi dini sangat memengaruhi hasil pengobatan pada banyak kondisi.
Saya bukan tenaga medis, jadi ini panduan umum. Untuk saran yang sesuai kondisimu, konsultasikan dengan dokter.
Kenapa pencegahan saja tidak cukup
Gaya hidup sehat menurunkan risiko secara signifikan, tapi tidak menghilangkannya. Ada faktor genetik dan lingkungan yang berada di luar kendali siapapun.
Ada orang yang tidak pernah merokok, rajin berolahraga, dan menjaga pola makan, tetap terdiagnosis kanker. Ini kenyataan yang tidak nyaman tapi perlu diakui.
Jadi pendekatan yang masuk akal adalah dua lapis:
- Turunkan probabilitasnya melalui gaya hidup dan deteksi dini
- Siapkan dampaknya kalau tetap terjadi, melalui dana darurat dan proteksi
Mengandalkan lapisan pertama saja adalah bertaruh pada kemungkinan. Mengandalkan lapisan kedua saja adalah mengabaikan hal yang sebenarnya bisa kamu kendalikan.
Kaitannya dengan usia mendaftar proteksi
Ada satu implikasi praktis dari tren ini yang perlu kamu sadari.
Semakin muda dan sehat kamu saat mendaftar proteksi, semakin ringan kontribusinya, semakin mudah lolos seleksi kesehatan, dan semakin sedikit pengecualiannya.
Sementara begitu ada kondisi yang tercatat dalam riwayat medismu, pilihannya menyempit. Bisa jadi kontribusi lebih tinggi, ada pengecualian spesifik, atau pengajuan ditolak.
Jadi tren penyakit kritis menyerang usia lebih muda punya dua konsekuensi sekaligus: risikonya lebih dekat dari yang kamu kira, dan jendela untuk mempersiapkannya lebih sempit dari yang kamu kira.
Kalau kamu ingin mengecek apakah lapisan proteksimu sudah menutup risiko ini, ada checklist 13 poin gratis di proteksimu.id/cek-keuangan. Ada juga kalkulator untuk menghitung berapa kebutuhan proteksi penghasilan keluargamu.
Dan kalau kamu ingin dibantu memetakan mana yang paling mendesak untuk kondisimu, mari kita ngobrol 30 menit. Kita hitung bersama dengan angka riil, lalu kamu yang putuskan.